Senin, 27 April 2009

Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau

Dalam kehidupan ini, jika memandang sesuatu hal tentang orang lain sering memunculkan pikiran, “enaknya jadi si A punya anu eh punya ini dan itu; enaknya jadi si B bisa ini bisa itu.” Seseorang yang punya pikiran seperti itu adalah hal yang sangat wajar, karena dia tidak pernah tahu kondisi sebenarnya dari si A dan si B. Mungkin saja si A dan si B merasa tidak nyaman karena memiliki ini dan itu karena takut kehilangan ini dan itu yang dianggapnya adalah miliknya.

Dalam pandanganku cara yang bisa dipakai untuk menghapus pikiran “rumput tetangga selalu lebih hijau” adalah dengan bersyukur terhadap semua hal yang ada pada diri kita karena yang ada pada diri kita merupakan yang terbaik untuk diri kita.

Sabtu, 18 April 2009

Pengemis Yang Kaya Raya

Aku pernah mendengar ungkapan kalau “seorang peminta-minta sampai kapan pun akan tetap jadi peminta-minta”. Aku bingung dengan ungkapan itu, padahal ada pengemis yang sampai memiliki mobil mewah, rumah besar, uangnya banyak, penghasilannya jauh melebihi penghasilanku sebagai seorang buruh.

Merenung adalah kebiasaanku yang paling aku sukai. Dalam ruang yang kecil sambil jongkok aku merenungkan ungkapan di atas, benarkah? Jika benar kenapa?

Dalam renungku, teringat ketika aku cangkruk di warkop ada seorang pengemis menghampiri dan meminta sedekah, setelah diberi dan pengemis pergi ternyata ada seseorang yang pernah tahu pengemis tersebut dan mengatakan kalau dia (pengemis) di tempat asalnya memiliki rumah yang besar dan bagus.

Ceting muncul sebuah cahaya dari luar kesadaranku dan mengatakan kalau ungkapan di atas benar adanya. Kok bisa? Ya bisalah. Mungkin begini, pengemis tersebut dari hasil mengemisnya dia dapat menghasilkan uang banyak bahkan bisa membangun rumah yang besar dan bagus di tempat asalnya. Tapi dalam kesehariannya, apakah dia bisa menikmati rumah mewahnya? Apakah dia bisa memakai baju yang layak dalam kesehariannya? Apakah bisa mengendarai kendaraan yang dimilikinya? Saya pikir tidak dalam kesehariaanya dia menggunakan pakaian yang kotor dan compang-camping dan berjalan menyusuri dari satu tempat ke tempat lainnya supaya dapat dikasihani. Bukankah dia tetap menjadi pengemis walaupun memiliki harta yang banyak.

Gak Enaknya Jadi Presiden

Saat aku duduk-duduk sambil ngopi plus baca koran, ada salah seorang mengajakku berbincang diawali dengan mengungkapkan “enak ya jadi presiden”. Mungkin karena aku orangnya yang ceplas-ceplos ku jawab saja “apa enaknya jadi presiden, yang paling enak ya jadi seperti saya, pagi-pagi sudah bisa pergi ke warung kopi, gak pusing mikirin ini mikirin itu, hehehe”.

Ku teruskan ocehanku yang ceplas-ceplos “coba bayangkan kalo jadi presiden mau ke sana ke sini ada pengawal yang terus ngikutin, gimana rasanya? Kalo aku sih gak bebas banget! Mungkin kalo kepingin ngopi diikuti terus ama pengawal, gimana rasanya? Gak gue banget deh!”
Dalam pandanganku yang lagi amburadul nih paling enak ya seperti aku ini.

Jumat, 10 April 2009

Paranormal dalam sebuah perspektif

Banyak beredar orang yang menyatakan diri sebagai paranormal, apakah betul mereka tersebut adalah paranormal? Aku tak tahu. Untuk mempermudah dalam mengetahui benar tidaknya mereka adalah paranormal, sebaiknya didefinisikan apa itu paranormal? Menurutku paranormal adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu hal jauh ke depan (dalam istilah lain mereka dapat menembus dimensi waktu entah itu hanya satu menit, dua menit ke depan atau bahkan beberapa tahun ke depan). Kenapa saya mendefinisikan seperti itu, karena dari media elektronik atau cetak biasanya paranormal menganggap tahu tentang jodoh seseorang, pekerjaan yang cocok, tahu kejadian yang bakal terjadi.
Apakah mereka benar-benar tahu? Aku tak tahu. Menurut saya paranormal memiliki ciri-ciri seperti ini:

  1. Layaknya ilmu padi semakin berisi semakin merunduk. Mereka tidak akan menunjukkan kemampuannya kepada halayak ramai.
  2. Tujuan tindakan yang dia lakukan bukan karena uang, tetapi sebagai sebuah keharusan yang dia lakukan karena dia sudah mengetahuinya terlebih dahulu.
  3. Hidup sederhana, sebab harta bukan tujuan hidupnya.

Tertipu oleh Otak di kepala sendiri

Setiap dapat merasakan sakit, sehat, indah, sedih, terharu, nikmat, dan sebagainya. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Jawabannya aku tak tahu. Ambil contoh ketika seseorang menginjak paku dia akan merasakan sakit dan menginformasikan ke sekitarnya jika yang dirasakannya sakit dengan ekspresi meringis dan atau mengucapkan aduuuuh/auuu (atau janc**). Kenapa kaki yang terluka kok bagian tubuh lain mengekspresikan rasa sakit juga? Aku tak tahu, tapi aku pernah memperoleh informasi konon katanya saraf-saraf yang ada di kaki akan memberikan informasi ke otak selanjutnya otak akan memproses informasi, selanjutnya otak akan memberikan respon atas data yang diterima. Respon tersebut akan diinformasikan ke bagian-bagian tubuh sehingga muncul berbagai ekspresi sakit, dan jika kejadian tersebut dianggap dapat menimbulkan masalah dikemudian hari (seperti infeksi, tetanus dsb.) orang tersebut akan melakukan pencegahan dengan memberi obat, ke dokter dll. Apakah itu benar? Aku tak tahu. Saya menyimpulkan dalam segala hal yang terjadi terhadap tubuh ini, tentang perasaan sakit, sehat dan sebagainya adalah produk dari otak. (Mohon pendapat dan koreksi jika ada yang salah).

Hidup dalam Kerelatifan

Mungkin saya banyak terpengaruh dengan pandangan mengenai relatifitas. Banyak hal dalam kehidupan ini berada dalam kerelatifan. Misalnya:

“Ada adalah relatif”
Keberadaan saya adalah suatu hal yang relatif. Saya tinggal di Surabaya saat ini, orang-orang di sekitar saya menganggap keberadaanku adalah nyata, tapi bagaimana dengan orang-orang yang ada di kota lain, di luar pulau lain, di belahan dunia lain tentu mereka menganggap aku tak pernah ada. Itu jika dilihat dari sudut pandang tempat, padahal kalau dilihat dari sudut pandang tahu dan tidak. Di sekitar saya orang-orang yang tahu, kenal dan pernah mengenal akan menganggap keberadaan adalah nyata, tetapi walaupun satu kota, satu tempat, jika tak pernah mengenal saya, mereka menganggap saya ini tak pernah ada.

“Kebenaran adalah relatif”
Kebenaran dalam kehidupan adalah benar menurut undang-undang yang berlaku dalam suatu negara, hasil kesepakatan, atau diyakini oleh banyak orang sebagai sesuatu yang benar. Sehingga sesuatu yang betul-betul benar sampai saat ini saya tak pernah tahu. Saat ini yang saya anggap benar adalah suatu hal yang saya yakini.

“Rasa adalah relatif”
Jika kehujanan tubuh merasakan kedinginan, jika langsung mandi, air dari bak mandi terasa hangat. Padahal jika mandi di tempat yang sama di siang hari yang terik, air tersebut terasa dingin dan menyegarkan.

Einstein yang mengagumkan

Einstein seorang ilmuwan yang sangat luar biasa cerdas, terkenal karena teori relativitasnya. Namun saya mengagumi Eintein tidak hanya karena kemampuannya bisa mencetuskan teori relativitas, tetapi lebih karena kemampuannya dalam memandang berbagai hal. Seperti, seni, cinta, alam semesta, sosial dan termasuk pandangannya tentang Tuhan. Saya begitu terpesona dengan cara pandang dia terhadap banyak hal.

Hidup dalam kebingungan

Sejak aku dulu aku merasakan kebingungan dalam hidup ini, banyak pertanyaan dalam pikiranku yang sulit ku pecahkan. Apakah benar Tuhan itu ada? Seperti apakah Tuhan itu? Untuk apa hidup di dunia ini? Sungguh bingung.

Adanya manusia, alam semesta merupakan pertanda adanya sang Pencipta yaitu Tuhan katanya sih begitu! Tapi aku tak bisa menerima jawaban tersebut, itu sebuah kesepakatan yang selanjutnya diyakini sebagai kebenarankah? Atau memang itu sebuah kebenaran mutlak? Jawaban mengenai keberadaan Tuhan mungkin bisa terjawab dengan membaca perjalanan hidup dari waktu ke waktu, dimana banyak keganjilan yang tidak bisa dilogikakan. Pada akhirnya aku meyakini Tuhan itu ada, satu hal yang kuanggap sebagai kebenaran mutlak.

Seperti apakah Tuhan itu? Sebetulnya saat ini kuanggap itu adalah sebuah pertanyaan konyol. Kenapa aku mempertanyakan seperti apa Tuhan itu? Aku meyakini Tuhan itu bukan seperti yang digambarkan oleh manusia seperti ini seperti itu. Karena apa yang digambarkan oleh manusia adalah suatu hal yang masih dibatasi oleh indera.
Untuk apa aku hidup di dunia ini? Sebuah pertanyaan yang belum tahu jawabannya sampai saat ini.

Sang Paladin-x

Entah mulai kapan saya menyukai paladin. Tokoh dalam game Age of Empires. Dia begitu hebat dalam berperang dengan kekuatan yang hebat. Selain tokoh paladin, saya juga menyukai apocalypse, yaitu tank yang tangguh tehnologi Rusia dalam game Command & Conquer. Sungguh game yang sangat luar biasa, sering membuatku lupa waktu hanya untuk bermain game tersebut. Saya tidak suka bermain game lawan komputer karena tidak dinamis, hampir setiap langkahnya dapat ditebak setelah bermain cukup lama. Saya lebih menyukai bermain lewat jaringan, biasanya saya mencari teman yang suka game tersebut dan janjian untuk bertarung. Itu terasa sangat nyata dan luar biasa puasnya.

Siapakah aku?

Siapakah aku?
Mereka sepakat menganggap aku manusia
Berdasarkan ciri-ciri yang ada di tubuhku,
mereka sepakat mendefinisikan sebagai laki-laki
Dedi Mujahidin adalah nama yang diberikan orang tuaku,
untuk memudahkan semua orang untuk mendefinisikan aku
Aku adalah Dedi Mujahidin, manusia berjenis kelamin laki-laki